Hanya Ada Sedikit Bintang Malam Itu

Tanggal 19 bulan lalu, resmi sudah Mas menikahi kamu. Rasanya baru kemarin Mas kejar tayang menulis CV sembari berharap-harap cemas: semoga tidak ada CV lain yang masuk mendahului. Rasanya baru kemarin, Mas nekat pulang ke Tangerang di akhir pekan untuk bisa berta’aruf dengan kamu; belagak tenang dari rumah hingga komplek Barata, tapi berakhir gelagapan hanya karena melihat wajahmu kembali setelah sekian lama tak bertemu. Rasanya baru kemarin, kita saling memperkenalkan diri ke orangtua masing-masing untuk pertama kalinya hanya dalam waktu 2 hari. Saat itu kamu terlihat gugup, barangkali karena kamu khawatir orangtua Mas tidak menyukaimu. Wallahi, sepulang kami mengantarmu ke rumah, Ayah & Ibu terus memuji-muji calon menantunya sepanjang perjalanan sampai mengucap,

“Kamu pinter ya pilih calon Istri..”

Rasanya baru kemarin, hormon endorfin membuncah liar karena kamu bilang, “Iya, insya Allah diterima” ketika MC menanyakan kesediaanmu untuk dipinang Mas dalam acara lamaran lalu. Kalau kata Ust Sabe’i, diamnya perempuan saja sudah bisa dianggap sebagai bentuk penerimaan, apalagi kalau dijawab dengan lantang dan tegas begitu, ehehehe..

Rasanya baru kemarin, Mas mengucapkan qobul untuk menghalalkan kamu. Mengucapkan sebuah kalimat mitsaqan ghalizha yang menjadi penanda beralihnya  tanggungjawab bapak kamu ke pundak Mas, bertambahnya kewajiban Mas untuk menjauhkan kamu & keluarga yang kita bina dari siksa Api neraka, serta sebagai garis start awal petualangan panjang kita yang misterius dan menyenangkan menuju Jannah-Nya.

Rasanya baru kemarin, rasanya baru kemarin dan rasanya baru kemarin..

Waktu berjalan begitu cepat dan teramat sangat cepat ketika Mas menghabiskannya bersama kamu, namun berjalan sangat lambat saat kamu tidak di sisi. Mas tahu kamu merasakan hal yang sama, bahkan mungkin melebihi apa yang Mas rasakan. Pernikahan kita memang tidak senormal yang lain; ada jarak yang membentang untuk SEMENTARA waktu. Memang beginilah konsekuensi dari pilihan kita sebagaimana yang pernah Mas utarakan saat taa’ruf dulu.

Tapi, mari kita bersepakat untuk tidak membanding-bandingkan diri kita dengan pasangan yang lain. Terlalu banyak hal yang harus kita syukuri; teman & keluarga yang baik, rejeki yang cukup, akses belajar yang melimpah ruah, ladang ibadah yang semakin luas dan tentu saja cinta kita berdua. Mari kita nikmati detik-detik kebersamaan ini dengan penuh syukur, meski dalam kondisi serumit dan sesulit apapun.

Cukuplah kita bandingkan kehidupan kita dengan saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Cukuplah kita bandingkan diri kita saat ini dengan diri kita di hari kemarin, agar senantiasa timbul semangat untuk jadi partner yang lebih baik setiap harinya. Comparison is the biggest thief of Joy, dan kebahagiaan hanya milik orang-orang yang bersyukur. Begitu kata si Andre.

Dan hidup bersama kamu sudah cukup menjadi alasan Mas untuk selalu bersyukur kepada Allah dan berhenti mengeluh. Sudah cukup jadi pelecut semangat untuk menjadi makhluk yang lebih baik dan yang terbaik. Sudah cukup menjadi alasan untuk semakin giat beribadah. Semoga itu juga yang kamu rasakan.

Jangan bosan mengingatkan Mas kalau salah. Jangan lelah mendukung Mas kalau benar. Ingatkan terus kewajiban-kewajiban Mas sebagai suami dan hak-hak kamu sebagai istri. Mari kita dulu-duluan minta maaf setiap terjadi pertengkaran dan dulu-duluan berterimakasih setiap terjadi hal yang menyenangkan. Mas juga akan memaafkan setiap perbuatan kamu yang ngeselin, selama itu tidak dalam perkara dosa besar; semoga itu bisa kamu lakukan juga terhadap Mas.

Cinta kita Allah yang ngasih. Insya Allah kalo kita dekat dengan Dia, perasaan kita akan semakin kuat.. Hanya dengan begitu kita dapat bertahan hingga tujuan akhir (Jannah)..

Oh iya, by the way..
Masih ingatkah kamu momen bersama kita di Payung saat liburan lalu? Hanya ada sedikit bintang malam itu. Mungkin karna kamu sedang cantik-cantiknya..

image

~ Untuk Shifa Aulia, wanita yang Allah titipkan untuk melengkapi Si Ihsan
10:39 pm 11-10-2015, Padang

190915 Off We Go!

OffWeGo

Bismillaah..

Assalamu’alaikum wr wb. Sebuah kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila rekan-rekan bersedia menghadiri undangan ini sembari melantunkan doa untuk keberkahan atas keluarga kami: “Barakallahu lakuma wa baraka ‘alaikuma wa jama’a baina kumaa fii khair, Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan”.

Shifa&Ihsan

Shifa&Ihsan2

Untuk membantu rekan-rekan menuju lokasi akad dan resepsi, berikut kami lampirkan peta beserta arahan-arahan yang semoga dapat membantu:

Google Maps Masjid Nurul Iman, Komplek Keuangan, Karang Tengah (Click Here)

Naik mobil pribadi:

  1. Lewat tol Pondok Ranji:
    Masuk di Tj Barat – keluar di tol Pondok Ranji – (ikuti plang petunjuk arah)sampe di perempatan lampu merah ciledug – ambil lurus terus sampe ketemu Komp. Dept. Keuangan – Masuk komplek sampai ketemu Masjid Nurul Iman (SDN Karang Tengah 6)
  2. Lewat Tol Baru Ciledug:
    Masuk Tj. Barat – keluar di Tol Ciledug – lurus terus sampe Mall CBD – Lurus sampe ke perempatan lewat jalan atas (jangan masuk underpass) – Di lampu merah perempatan belok kanan – lurus terus ketemu komplek dept. Keuangan (komp. sebelah kiri jalan) – Masuk komplek sampai ketemu Masjid Nurul Iman (SDN Karang Tengah 6)

Naik kendaraan umum:

  1. Naik kereta turun di st. Tanah Abang – Naik Kopaja P16 jurusan tn.abang ciledug (jalan sedikit/naik angkot biru M11 sampe ketemu kopajanya. Bilang aja ke abangnya mau naik P16 ke Ciledug – Turun di depan Komp. Keuangan Karang Tengah Ciledug – Masuk komplek sampai ketemu Masjid Nurul Iman (SDN Karang Tengah 6) – agak jauh kalo jalan kaki, banyak ojek depan situ.. atau naik angkot komplek, tapi agak lama dan memutar
  2. Angkutan Umum (dari arah Cipondoh). Naik angkot B02 ke Ciledug (ijo strip kuning,jurusan Ciledug-Cipondoh) – turun di perempatan Ciledug – Naik angkot C03 (warna kuning) ke arah Karang Tengah – Turun di Komplek Dept. Keuangan) – Masuk komplek sampai ketemu Masjid Nurul Iman (SDN Karang Tengah 6)

Dari Bandara Soekarno Hatta: Naik taksi, bilang ke Karang Tengah, Ciledug. Lewat Tol Kembangan – keluar di Ringroad – ambil ke arah Ciledug (Komplek Dep. Keuangan Karang Tengah, Ciledug – Masuk komplek sampai ketemu Masjid Nurul Iman (SDN Karang Tengah 6)

Semoga tidak nyasar, selamat sampai tujuan dan mari bersilaturahim dalam momen yang insya Allah penuh keberkahan 🙂

Feel free to contact me (HP: 081213604855)

Best Regards,

Shifa & Ihsan

(Every) Daddy is the Sweetest Daddy in the World

“Nama saya Indra, pak..”

Begitulah awal perkenalan kami sembari berjabat tangan. Pak Indra adalah salah satu supervisor dari sebuah perusahaan sub-kontraktor yang sedang membantu kami memasang perangkat radio transmisi di salah satu site milik Telkomsel. Kebetulan namanya mirip dengan salah satu mentor saya di kantor.

“Wah, di divisi saya ada yang namanya Indra juga tuh, pak.. Hehe..”

“Haha, iya pak Ihsan.. saya pernah nelpon beliau dan kita ketawa bareng karena kebetulan namanya sama..”

Kami berdua berdiri di depan pintu yang menuju rooftop. Dua orang staf pak Indra sedang membuka sebuah kardus, mengeluarkan perangkat dan bersiap menggotongnya ke atas tower. Sebagai seorang trainee, rasa penasaran saya muncul untuk mengorek lebih dalam fungsi perangkat tersebut, tapi pertanyaan demi pertanyaan urung saya ajukan karena kelihatannya kedua staf ini cukup sibuk dengan pekerjaannya. Terlebih lagi, rasa penasaran saya terhadap manusia lebih tinggi daripada rasa penasaran terhadap mesin, hehe. Siang itu saya memutuskan untuk lebih banyak mengorek kehidupan orang-orang yang baru saya kenal. Saya meyakini bahwa salah satu jurus jitu beradaptasi dengan lingkungan baru adalah dengan memahami kehidupan masing-masing orang di dalamnya.

DaddyKami pun melanjutkan pembicaraan sembari tetap memperhatikan pekerjaan kedua staf pak Indra yang sedang memanjat tower dengan lincahnya. Percakapan dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan dasar sebagaimana lazimnya orang yang baru bertemu pertanyakan: asal darimana, kerja di bagian apa, dulu sekolah dimana, umur berapa dan lain sebagainya. Hingga kemudian terduduk lah kami di salah satu sudut rooftop yang cukup adem karena tertimpa bebayangan tembok besar. Maklum, panas yang menyengat bikin cepat lelah.

“Wah, mantap ya pak Ihsan ini. Masih muda karirnya sudah jelas dan menjanjikan..”

“Ya alhamdulillah pak, tapi ini juga kan masih training. Belum pasti lulus.”

“Bisa lah pak, aman itu..”

“Hehe.. doain aja lah. Oh iya, pak Indra udah berapa lama kerja di perusahaan ini?

“Udah 2 tahun lah kira-kira… Tapi.. ”

Tiba-tiba wajahnya yang semula ceria perlahan berubah murung. Kelebat matanya seolah menerawang jauh ke kejadian-kejadian masa lalu yang serentak membanjiri pikirannya. Setelah menghela napas, dia pun melanjutkan.

“Tapi sebenarnya saya mau cari pekerjaan lain yang lebih baik pak. Rasanya penghasilan masih belum mencukupi buat nafkah..”

“….”

“Awal tahun ini saya daftar CPNS pak. Udah usaha tapi yaah.. belum rejeki..”, ujar pak Indra, “Ngenes-nya, pas pengumuman hasil ujian tertulis, nama saya tepat di bawah nama urutan terakhir yang dinyatakan lulus.. tipissss bener mah..”

“Hoo.. sabar ya pak..”, Saya hanya bisa terkekeh kecut.

“Tapi alhamdulillahnya, pak Ihsan..”, mendadak sinar wajahnya hadir kembali disertai senyum lebar yang merekah.

“..Alhamdulillah, di hari yang sama setelah baca pengumuman, saya langsung dapat telepon dari rumah.. anak saya lahir pak! Hehe..”

“Saya ga diterima CPNS, tapi ternyata ada rejeki lain yang lebih baik.. rasanya tuh hilang semua pak kecewanya. Ternyata Allah menjawab doa saya dengan yang lebih baik dari yang saya minta. Anak saya lahir dengan selamat dan sehat..”

Mendengar itu saya kembali teringat dengan bapak di rumah. Seperti inikah yang beliau rasakan ketika anak-anaknya lahir? Mungkin bukan hanya pak Indra atau bapak saya saja ya, melainkan seluruh bapak waras di seluruh dunia. Hari itu saya melihat kebahagiaan murni seorang bapak yang tidak dibuat-buat. Ah, tapi saya sadar, bahwa kebahagiaannya hanya dapat dimengerti oleh beliau semata. Kita tidak akan bisa sepenuhnya memahami manusia sebelum menjalani langsung apa yang dia lakukan dan alami, bukan begitu?

Pernah melihat video di bawah ini? Saya rasa setiap bapak yang bertanggungjawab memiliki sisi sweet-nya masing-masing. Mereka unik dengan caranya sendiri. Tapi satu yang sama: mereka berbahagia ketika berkorban untuk anaknya 🙂

Hari semakin terik. Pekerjaan telah selesai dan pak Indra berpamitan pulang, sementara kami masih standby di site menuntaskan pekerjaan lain. Saya bersyukur atas hikmah hari itu, dan lebih bersyukur lagi karena mendapatkan energi cuma-cuma untuk memperbaiki komunikasi dengan bapak di rumah.

“Duluan ya pak Ihsan, ketemu lagi di lain kesempatan..”, jabatnya erat.

Fearless

What does it mean to ‘be yourself’?

Ketika orang-orang berkata kepada saya, ‘jadilah diri sendiri’, satu hal yang terlintas di benak: ‘jadi diriku yang mana?’

Ketika kecil dulu, saya tidak pernah ambil pusing apa yang orang lain katakan. Yang saya tahu, ketika tidak suka, saya akan marah; ketika suka, saya akan mengatakannya. Hidup dulu sesederhana itu.

Tapi satu-satunya yang tidak berubah memang perubahan itu sendiri. Kita berubah seiring berubahnya, bertambahnya, atau berkurangnya hal-hal yang ingin kita lindungi. Dari sekedar ‘harta karun’ sepele yang hanya diketahui oleh kita, hingga hal-hal substantif yang dapat membuat dagu kita terangkat tinggi. Dari sekedar melindungi mainan kesayangan yang kita beli dengan uang tabungan sendiri, hingga melindungi orang-orang yang kita sayangi dari kesedihan. Dari sekedar ego sederhana seorang bocah, hingga penggunaan kacamata ‘untung rugi’ untuk setiap masalah yang kita hadapi. Dari sekedar mementingkan keinginan pribadi, hingga mendahulukan kepentingan orang lain.

Seiring bertambahnya umur, ketakutan kita menumpuk semakin banyak. Kita mulai belajar takut gelap, takut kehilangan teman, takut ditindas, takut ditinggal sendiri, takut menjadi orang yang berbeda, takut dibicarakan di belakang, takut berbicara di depan umum, takut miskin, takut tekanan atasan, takut bertanggungjawab dan segala takut yang lain. Kita menjelma dari seorang yang tidak punya rasa takut menjadi orang yang terlihat berani di permukaan tapi penuh dengan kecemasan yang menghimpit dada.

What does it mean to ‘be yourself’?

Diriku yang mana? the fearful one or the fearless one?

Semakin dewasa kita, semakin banyak juga kantong-kantong penyesalan yang membungkukkan punggung. Tapi tahukah kamu? Menjadi dewasa membuat kita makin menyadari banyak hal, dan kita tidak perlu menyadarinya di awal. Menjadi the fearless one terlihat menyenangkan, tapi sungguh, terkadang ia tidak semenyenangkan itu. Menjadi the fearful one terasa memuakkan, tapi sungguh, di waktu & tempat yang tepat ia menjelma penyelamat. 

Jadi,

Aku ingin menjadi diri sendiri, dan jadilah kau sebagai dirimu sendiri. Karena aku bukan kamu, sama seperti kamu yang bukan aku.

Let me tell you my own definition of ‘be yourself’: It is positioning my fearful one on the bad things & my fearless one on the right things

Hingga ketika nanti datang hambatan hidup, aku akan berhenti sejenak & bertanya kepada ‘kedua’-nya: “Jika kita tidak memiliki rasa takut, kecuali hanya kepada Allah. Apa yang akan kita lakukan?”

Jijik

dashiffagambar:dashiffa.com

Saya jijik dengan perpolitikan Indonesia

Saya jijik dengan pelaku sosmed berbahasa kasar

Saya jijik dengan mereka yang ngotot-ngototan beremosi di Facebook dan Twitter

Saya jijik dengan orang-orang yang mudah nyebar info palsu

Saya jijik dengan mereka yang sok pintar, padahal cuma tahu sedikit

Saya jijik dengan mereka yang sok pintar, dan mengejek orang yang beneran pintar dengan sebutan bodoh

Saya jijik dengan mereka yang figur sentris hingga menganggap figur tersebut selalu benar

Saya jijik dengan Zionis

Saya jijik dengan mereka yang membela Zionis

Saya jijik dengan mereka yang mencemooh Palestina

Saya jijik dengan media yang tidak berimbang

Saya jijik dengan mereka yang kemakan media tidak berimbang

Saya jijik dengan saya..

Yang mungkin saja termasuk dari salah satu ‘mereka’ yang telah disebutkan. Yang belum selesai dengan perkara pribadi. Yang tidak bisa berkontribusi banyak untuk kebaikan saudara-saudaranya. Yang sering lalai. Yang egonya menutupi pandangan atas buruknya diri sendiri. Yang terlepas dari segala kekurangan dan keburukan, masih saja mendapat kebaikan dari sekitarnya, masih saja mendapat kesempatan demi kesempatan dari Allah.

Dari segala hal yang menjijikkan, adakah yang lebih membuatmu jijik daripada ini?

 

Copras Capres : Riwayat Geng Pelor

Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK adalah dua pasangan figur yang namanya paling tersorot se-antero nusantara selama beberapa pekan ini. Perjalanan kampanye -dari positive, negative, hingga black campaign- telah mereka lalui bersama. Analisis masyarakat terkait track record, performa debat, bahkan kemungkinan psikologis calon apabila menjabat pun sudah banyak berseliweran. Pada pilihan mana kita akan berlabuh tentunya harus berdasarkan pertimbangan cerdas dan matang dari hasil pilah dan olah informasi yang membanjir.

Yang jelas, saya pribadi merasa pilpres tahun ini adalah pilpres yang paling sulit bagi saya menentukan pilihan, beda dengan kedua periode sebelumnya yang masih ada faktor SBY. Dengan makin tersorotnya kedua calon, borok masing-masing pihak semakin terkuak jelas dan lebar. Entahlah.. pola pikir kita yang tadinya ‘Pilih yang paling besar kebaikannya di antara yang baik’ tiba-tiba harus bergeser menjadi ‘Pilih yang paling kecil keburukannya di antara yang buruk’.

GengPelorPeso

Pilpres kali ini juga menjadi semacam lawakan, dagelan, atau sinetron. Tipikal sinetron yang episode-nya sampe ratusan dan pemerannya ketika sedang bertengkar suka melototin mata; kalo kata bang David SUCI 4: ‘Biji matanya meletak’. Orang-orang dewasa yang tadinya merupakan dua sejoli mesra di periode sebelumnya, tiba-tiba jadi seperti mantan-mantanan yang saling mencibir.

Ini persis seperti jaman saya SD dulu. Alkisah, kelas kami terbagi menjadi dua kubu geng, sebut saja geng Pelor dan geng Peso. Kedua kubu geng ini sama-sama memiliki pemimpin yang berpengaruh dan sama-sama ingin memperluas pengaruhnya di kelas (padahal anak-anak non geng mah sebodo teuing). Saya sendiri termasuk anggota salah satu geng, yakni geng yang terpengaruh dengan sinetron hits berjudul Meteor Garden  lalu kemudian dengan tanpa malunya kita berpikiran untuk menamai grup kita dengan sebutan F4. Mengingat kita tidak kalah tampan dengan mereka. Minimal kata ibu kita masing-masing dan kata orang yang melihat kita dari jauh pake sedotan.

Salah seorang anggota lalu menyanggah, ‘tapi kan kita berlima cuy!’. Yaudah namanya jadi F5 aja. Solutif.

Dalam perjalanannya, geng lawan menyadari bahwa F5 dalam dunia per-Counter Strike-an merupakan tombol keyboard untuk mengeluarkan pistol. Pistol –> peluru –> pelor. Lalu mulailah Black Campaign menerpa kami dengan ejekan pelar pelor tersebut.

Jadilah nama kita geng Pelor…

Suatu hari terjadi percekcokan pribadi antara bos Pelor dengan salah satu anggotanya, sebut saja Pulan. Hari-hari berikutnya kemudian dilalui sesuai kesepakatan musyawarah geng kami untuk mengkacang si Pulan ini hingga waktu yang tak ditentukan. Kacang ini adalah istilah untuk mendiamkan seseorang, sanksi kelompok untuk orang yang dinyatakan bersalah. Seseorang yang di-kacang tidak boleh diajak ngobrol, disapa, dilihat, bahkan main bola pun tidak boleh mengoper ke dia. Begitu kejamnya sistem yang kami buat. Mirip seperti Kaab bin Malik yang didiamkan oleh Rasulullah & para shahabat. Bedanya, alasan yang kami gunakan sangat konyol dan orang-orang yang terlibat di dalamnya bau maksiat semua. Saya juga pernah di-kacang dan itu sakitnya disini *nunjuk dada. Percekcokan dan pengacangan ini menyebabkan si Pulan sakit hati lalu memutuskan untuk keluar dari geng dan bergabung dengan geng Peso.

Hari-hari berikutnya, kerjaan si Pulan adalah melakukan Negative Campaign terstruktur. Satu per satu anggota geng Pelor diculik ke kantin saat jam istirahat. Dengan lihainya si Pulan mengajak kami, yang masih suka gak tegaan ngacangin orang, untuk ngobrol empat mata. Dia jabarkan semua keburukan bos Pelor. Dia recall kembali kenangan-kenangan buruk kami saat dikacang. Dia sentuh nurani kami untuk menangis sejadi-jadinya *ini lebay. Pada akhirnya, saya merasa apa yang dia katakan ada benarnya juga. Tapi di satu sisi ada keraguan untuk keluar dari geng karena saya pun merasakan ada kebaikan yang tak tergantikan di dalamnya. Saya berpikir, ini pasti ada jalan keluarnya, kita tidak boleh terus berpecah belah. Tanpa disadari, benih-benih patriot mulai muncul dalam sanubari saya.

Solusinya ternyata muncul sendiri secara alami. Singkat cerita, negative campaign mulai tersebar di kelas kami. Bos Pelor yang merasakan kedudukannya terancam mulai melakukan pendekatan kepada si Pulan. Dengan gentle-nya si bos meminta maaf atas kesalahan yang dia lakukan dan memaafkan kesalahan si Pulan atas dirinya. Bos dan si Pulan pun berbaikan dan bermain bola seperti sedia kala. Lebih jauh lagi, bos Pelor pun hadir ke acara ulang tahun bos Peso sambil membawa hadiah yang keren. Hal yang tidak kami sangka-sangka, termasuk oleh bos Peso sendiri. Geng Peso saling bertatap-tatapan dan senyum tersipu malu. Saya yakin mereka saling berbisik, ‘Lu bilang dia kaga bakal datang, itu datang. Tengsin men.’

Akhir cerita, dengan rendah hati, bos Peso pun menerima pesan damai bos Pelor. Perang dingin di antara kami berakhir begitu saja di tengah riuhnya games ulangtahun bos Peso. Sistem kacang-mengacang perlahan mulai ditinggalkan dalam geng kami. Bos Pelor dan bos Peso pun tetap mempertahankan pengaruh dan kekuasaannya, tapi kali ini dengan cara damai dan diakui oleh seluruh pihak. Kami semakin kompak di kelas maupun lapangan. Kami tetap bersahabat hingga sekarang. Koalisi kami sehat.

Lalu apa hubungannya dengan pilpres? Pilpres kali ini gak jauh beda dengan berantemnya anak SD.

Rhoma Irama dan Mahfud MD gak jadi dimajuin PKB akhirnya pilih jadi timses kubu sebelah

WIN-HT cerai sebelum tempur di pilpres dan jadi timses di kubu berbeda

JK pernah bilang Jokowi belum layak nyapres, tiba-tiba jadi cawapresnya

Dulu pas ada pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto, isu penculikan aktivis 1998 gak pernah diangkat. Tiba-tiba sekarang mendadak menolak lupa.

Wakilnya Jokowi di Jakarta dukung Prabowo

Ada kader PKS yang mencibir kampanye-nya Gerindra di GBK karena gak sanggup menyaingi membludaknya kampanye PKS di tempat yang sama. Sekarang kader PKS dukung Prabowo habis-habisan

Dan sederet kisah lucu lainnya..

Benarlah sabda Rasulullah yang menyebutkan bahwa benci dan suka itu sekedarnya saja, karena bisa jadi yang dulunya lawan akan menjadi kawan kita di kemudian hari, yang sekarang kawan bisa jadi lawan sengit di kemudian hari. Politik.

Semua berpusar dari kepentingan-kepentingan yang mungkin tidak kita mengerti atau tidak kita pedulikan. Sayangnya, pusaran-pusaran kepentingan ini bukanlah perkara yang bisa kita kesampingkan. Mau tidak mau, suka tidak suka kita harus tetap memeras otak untuk memilih salah satu. Saya rasa sikap netral itu terlalu naif untuk kondisi sekarang. Setiap orang, besar atau kecil, pasti memiliki keberpihakan. Mereka yang masih netral menurut saya ada dua kemungkinan: Tidak tahu atau Tidak mau tahu.

Lalu siapa yang saya pilih? Masih ada dua debat capres-cawapres yang belum saya tonton, hehe. Selesai nonton di Youtube dan beristikharah mungkin baru bisa mantap memilih.

Yang jelas, siapapun nanti yang terpilih, saya berharap mereka bisa sedewasa geng Pelor dan geng Peso.

 

FYI update 9 Juli –> Saya jadinya milih Prabowo-Hatta

Constant Change

Seorang santri bertanya pada ustadz-nya.

“Stadz, misal ada orang yang sengaja ninggalin sholat 5 waktu, itu hukumnya apa stadz?”

Sang ustadz menjawab dengan tegas,

“Wajib!”

“..???”

***

Tanpa disadari, selama ini kita menjalani hidup dengan mempertahankan sebuah mispersepsi terhadap konsep waktu. Kita seringkali merasa bahwa perkembangan diri kita telah ‘berakhir’ di satu titik, bahwa diri kita pada hari ini adalah diri kita sepanjang sisa hidup, bahwa tidak ada lagi perubahan yang akan terjadi dalam diri kita.

‘Saya selalu gugup ketika  berbicara di depan umum, selamanya saya tidak akan bisa berpidato’

‘Saya bukan orang yang rapih, jangan pernah berikan saya kerjaan sebagai manager’

‘Saya sedang mengumpulkan uang untuk membeli motor idaman saya seumur hidup’

‘Saya suka lagu ini! Kayanya sampai tua pun saya tidak akan bosan mendengarkannya berulang-ulang’

‘Suka-suka saya mau makan apa, toh badan sehat begini’

‘Dia adalah cinta pertama dan terakhirku..’

Dan Gilbert, seorang psikolog dari Universitas Harvard, menyebut fenomena ini dengan nama End of History illusion. Penjelasan lebih detail silahkan tonton video berikut. Jika kita mengalami hal ini, jangan cepat percaya dengan perspektif tersebut karena bisa jadi itu semua hanyalah ilusi.

Buktinya, tak jarang kita menemukan mereka yang dulu kita anggap ‘cupu’ tiba-tiba menjelma menjadi seorang pemimpin karismatik. Mereka yang dulu rela makan sedikit demi membeli motor idaman, tiba-tiba menjual motornya karena alasan bosan. Mereka yang dulu tidur di tumpukan kaset, CD dan poster pemusik idamannya, sekarang membuang semua pernak-pernik itu ke tempat pembuangan sampah. Mereka yang di masa mudanya mengkonsumsi apa yang di masa tuanya coba ia hilangkan dari tubuh. Mereka yang dulu mengikat janji sehidup semati & rela kabur dari rumah demi memadu kasih terlarang, sekarang berita perceraiannya heboh dimana-mana. Setiap orang pasti pernah mengalami hal sejenis ini.

Mengapa manusia menyesali apa yang dulu mereka yakini, yang dulu mereka perjuangkan mati-matian dan yang dulu tidak mereka lakukan?

Jawabannya, karena manusia berubah.

Perubahan bisa terjadi dalam dirinya, atau terjadi pada orang-orang di sekitarnya. Kita pada detik ini adalah kita yang temporary, begitu pun orang-orang di sekitar kita.

time

Contoh yang paling kasat mata adalah perubahan fisik kita. Dulu saya gendut, sekarang makan sebanyak apapun tetap saja kurus. Dulu saya imut-imut, sekarang amit-amit.

Tapi kawan, mari kita bersepakat untuk tidak meremehkan kekuatan waktu & mari bertahan pada konsep bahwa kondisi sekarang hanyalah sementara. Bisa saja beberapa tahun lagi saya kembali menggendut (pengakuan: perut saya akhir-akhir ini makin membuncit). Bisa saja beberapa minggu lagi saya kembali imut.

ConstantChange

Untuk saya & kamu yang merasa ada yang salah dengan hidup, jangan khawatir. Kita masih punya waktu untuk berubah. Mereka yang tidak (mau) berubah adalah orang-orang yang terjebak dalam ilusi bahwa dirinya detik ini adalah representasi dari dirinya di masa depan. Perlakukan juga orang lain selayaknya manusia yang memiliki potensi untuk berubah, dengan begitu, kita tidak akan mencintai dan membenci secara berlebihan.

Tidak lupa, sebentar lagi Ramadhan. Insya Allah perubahan akan kita mulai dari sekarang 🙂

Keep moving forward.

***

Seorang santri bertanya pada ustadz-nya.

“Stadz, misal ada orang yang sengaja ninggalin sholat 5 waktu, itu hukumnya apa stadz?”

Sang ustadz menjawab dengan tegas,

“Wajib!”

“..???”

si Santri terkaget dengan jawaban ustadz-nya yang di luar ekspektasi

dengan senyum bijaksana, sang Ustadz kembali meneruskan

“Wajib.. bagi kita untuk mengingatkan dia”